Ilustrasi
BeritaBengkulu.id - Pelaksanaan Ujian Nasional (UN) tingkat SMP/MTs di Bengkulu, Selasa (2/5), diawasi secara ketat oleh panitia pengawas. Para siswa hanya diperkenankan membawa alat tulis saja ke ruang kelas dan tas harus ditinggalkan di luar kelas.
Hal ini dilakukan untuk mengatisipasi terjadinya kecurangan dalam pelaksanaan UN tingkat SMP/MTs di Bengkulu, baik melalui UNBK maupun UNPK.
Dari pantuan SP di sejumlah SMP di Bengkulu, Selasa, terlihat para siswa sejak pukul 07.00 WIB, sudah berada di sekolah. Mereka sengaja datang lebih awal ke sekolah meski UN baru dimulai pukul 08.00 WIB karena siswa memastikan tempat duduknya.
Namun, ketika akan masuk ke ruang kelas siswa dijaga ketat oleh pengawas. Seluruh tas siswa harus ditinggalkan di luar kelas. Siswa hanya dizinkan membawa alat tulis saja ke ruang kelas.
"Siswa kita larang membawa tas ke dalam kelas kecuali alat tulis saja. Ini kita lakukan untuk mengantisipasi terjadi kecurangan dalam pelaksanaan UN tingkat SMP/MTs di daerah ini," kata salah guru di salah satu SMP Negeri di Kota Bengkulu.
Dengan pengawasan yang ketat tersebut, diharapkan tidak ada celah bagi siswa untuk berbuat curang dalam mengerjakan soal-soal UN, sehingga pelaksanaan UN di Bengkulu bebas dari kebocaran dan berlangsung aman.
Sementara itu, Kepala Disdikbud Bengkulu, Ade Erlangga mengatakan, soal UN tingkat SMP/MTs di Bengkulu, sudah disalurkan ke seluruh sekolah SMP/MTs yang di 10 kabupaten dan kota di daerah ini.
"Kita berharap soal UN SMP/MTs yang salurkan ke sekolah di 10 kabupaten dan kota, dalam keadaan lengkap, sehingga pelaksanaan UN hari pertama dapat berjalan lancar sesuai harapan," ujarnya.
Ade menambakan, peserta UN tingkat SMP/MTs di Bengkulu, pada 2017 tercatat sebanyak 24.000 siswa, tersebar di 10 kabupaten dan kota di daerah ini.
Dari jumlah peserta UN SMP/MTs tersebut, yang melakukan UN dengan sistem Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) hanya sekitar 20 persen. Sedangkan 80 persennya mengikuti UN dengan sistem Ujian Nasional Kertas dan Pensil (UNPK).
Hal ini terjadi karena sebagian besar SMP/MTs di Bengkulu, belum siap melakukan UN sistem UNBK karena fasilitas komputer terbatas dan akses internet masih tersendat dan jaringan listrik terbatas.
"Ketiga hal inilah yang menyebabkan 80 persen SMP/MTs di Bengkulu, masih menggelar UN dengan sistem UNPK. Tahun depan, kita tergetkan sudah bisa menggelar UNBK," ujarnya.
Untuk itu, Disdikbud Bengkulu, akan memberikan bantuan alat komputer ke sekolah SMP yang ada di daerah ini, sehingga pada 2018, jumlah SMP yang bisa menggelar UNBK di atas 60 persen dari sekarang," ujarnya.
Ade menambahkan, sekolah SMP/MTs di Bengkulu, yang melaksanakan UNBK pada 2017 sebanyak 26 sekolah. Dari jumlah itu, 13 sekolah berada di Kota Bengkulu. Sedangkan sisanya di Rejang Lebong, Bengkulu Utara, dan Bengkulu Selatan.
Sedangkan UN tingkat SMP/MTs di enam kabupaten lainnya di Bengkulu, mayoritas masih menggunakan UNPK. Hal ini terjadi karena sekolah bersangkutan tidak memiliki perangkat komputer dan jaringan internet.
(BS)

UN Tingkat SMP Digelar

Ilustrasi
BeritaBengkulu.id - Pelaksanaan Ujian Nasional (UN) tingkat SMP/MTs di Bengkulu, Selasa (2/5), diawasi secara ketat oleh panitia pengawas. Para siswa hanya diperkenankan membawa alat tulis saja ke ruang kelas dan tas harus ditinggalkan di luar kelas.
Hal ini dilakukan untuk mengatisipasi terjadinya kecurangan dalam pelaksanaan UN tingkat SMP/MTs di Bengkulu, baik melalui UNBK maupun UNPK.
Dari pantuan SP di sejumlah SMP di Bengkulu, Selasa, terlihat para siswa sejak pukul 07.00 WIB, sudah berada di sekolah. Mereka sengaja datang lebih awal ke sekolah meski UN baru dimulai pukul 08.00 WIB karena siswa memastikan tempat duduknya.
Namun, ketika akan masuk ke ruang kelas siswa dijaga ketat oleh pengawas. Seluruh tas siswa harus ditinggalkan di luar kelas. Siswa hanya dizinkan membawa alat tulis saja ke ruang kelas.
"Siswa kita larang membawa tas ke dalam kelas kecuali alat tulis saja. Ini kita lakukan untuk mengantisipasi terjadi kecurangan dalam pelaksanaan UN tingkat SMP/MTs di daerah ini," kata salah guru di salah satu SMP Negeri di Kota Bengkulu.
Dengan pengawasan yang ketat tersebut, diharapkan tidak ada celah bagi siswa untuk berbuat curang dalam mengerjakan soal-soal UN, sehingga pelaksanaan UN di Bengkulu bebas dari kebocaran dan berlangsung aman.
Sementara itu, Kepala Disdikbud Bengkulu, Ade Erlangga mengatakan, soal UN tingkat SMP/MTs di Bengkulu, sudah disalurkan ke seluruh sekolah SMP/MTs yang di 10 kabupaten dan kota di daerah ini.
"Kita berharap soal UN SMP/MTs yang salurkan ke sekolah di 10 kabupaten dan kota, dalam keadaan lengkap, sehingga pelaksanaan UN hari pertama dapat berjalan lancar sesuai harapan," ujarnya.
Ade menambakan, peserta UN tingkat SMP/MTs di Bengkulu, pada 2017 tercatat sebanyak 24.000 siswa, tersebar di 10 kabupaten dan kota di daerah ini.
Dari jumlah peserta UN SMP/MTs tersebut, yang melakukan UN dengan sistem Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) hanya sekitar 20 persen. Sedangkan 80 persennya mengikuti UN dengan sistem Ujian Nasional Kertas dan Pensil (UNPK).
Hal ini terjadi karena sebagian besar SMP/MTs di Bengkulu, belum siap melakukan UN sistem UNBK karena fasilitas komputer terbatas dan akses internet masih tersendat dan jaringan listrik terbatas.
"Ketiga hal inilah yang menyebabkan 80 persen SMP/MTs di Bengkulu, masih menggelar UN dengan sistem UNPK. Tahun depan, kita tergetkan sudah bisa menggelar UNBK," ujarnya.
Untuk itu, Disdikbud Bengkulu, akan memberikan bantuan alat komputer ke sekolah SMP yang ada di daerah ini, sehingga pada 2018, jumlah SMP yang bisa menggelar UNBK di atas 60 persen dari sekarang," ujarnya.
Ade menambahkan, sekolah SMP/MTs di Bengkulu, yang melaksanakan UNBK pada 2017 sebanyak 26 sekolah. Dari jumlah itu, 13 sekolah berada di Kota Bengkulu. Sedangkan sisanya di Rejang Lebong, Bengkulu Utara, dan Bengkulu Selatan.
Sedangkan UN tingkat SMP/MTs di enam kabupaten lainnya di Bengkulu, mayoritas masih menggunakan UNPK. Hal ini terjadi karena sekolah bersangkutan tidak memiliki perangkat komputer dan jaringan internet.
(BS)